Sunday, December 18, 2016

Peta Tematik Penduduk Berusia Lebih dari 5 Tahun yang Pernah atau Sedang Menempuh Pendidikan Dasar di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Sekitarnya Tahun 2014

Wednesday, November 19, 2014

Linux atau Windows

Tentunya kita tidak asing lagi dengan yang namanya Komputer. Kita tahu bahwa pada komputer terdapat Sistem Operasi (Operating system / OS). OS berfungsi sebagai penghubung hardware dengan pengguna. Ada banyak sekali OS. Contohnya pada HP kita mengenal mengenal Android, Blackberry, Symbian, Windows Phone, iOs, dan lain-lain. Itu semua merupakan maca-macam OS pada HP. Begitu juga dengan Komputer, mempunyai beberapa OS. Mungkin OS yang kita gunakan sehari-hari adalah Microsoft Windows. OS lain yang juga tak kalah populer adalah Linux. Linux sendiri mempunyai beberapa turunan.
Berbeda OS pasti berbeda juga "rassanya". Kali ini saya akan mengulas secara singkat perbedaan antara Microsoft Windows 8.1 dengan Linux Mint 17.

Perbedaan yang paling mendasar bahwa Linux Mint adalah OS Open Source, sedangkan Windows tidak. hal ini menjadikan perkembangan Mint lebih pesat. Karena banyak pengembang yang akan mengemabangkan OS ini. Sedangkan Windows adalah OS berbayar, sehingga Untuk mengembangkannya pun butuh pertimbangan-pertimbangan dan juga resource yang besar. Selain itu akibat dari Open Source adalah OS Mint lebih mudah di custom tampilan nya.

Secara tampilan, seperti disebutkan di atas, Maka Linux Mint akan lebih variatif. Pada Linux ada yang disebut Shell. Shell yaitu tampilan dasar dari kalau dalam windows seperti Taskbar, Menu bar, Star menu dll. Dalam Shell ada yang seperti Windows maupun macOS. sehingga pengguna tidak akan merasa bosan. Dalam windows Tidak ada yang namanya Shell, sehingga tampilan Windows hanya seperti itu-itu saja.

Desktop pada Windows 8.1


Desktop pada LinuxMint 17



Selain itu dari segi keamanan, Linux lebih aman Dari Windows.
Mengapa Linux Lebih Aman
Selain virus di Linux masih sedikit, terdapat beberapa hal yang membuat Linux lebih aman daripada Windows:

  • Adanya fitur package manager dan repositori seperti Ubuntu. Aplikasi-aplikasi yang masuk di repositori Ubuntu sudah di-review dan diuji coba sebelum didistribusikan kepada pengguna. Hal ini menambah lapis keamanan Ubuntu. Distribusi Linux yang lain juga memiliki mekanisme package manager dan repositori masing-masing.
  • Karakter pengguna Linux. Kebanyakan pengguna Linux adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang dunia komputer atau yang biasa disebut dengan "geek" . Seorang "geek" tidak akan mudah tertipu dengan aplikasi atau situs yang mencurigakan, mereka cenderung berhati-hati. Berbeda dengan pengguna Windows yang kebanyakan orang awam, mudah sekali "tertipu" dengan aplikasi dan situs web tertentu yang menyebarkan virus.
  • Fitur keamanan lain. Fitur yang sangat dijadikan andalan adalah adanya akses superuser atau akses "root" seperti perintah "sudo" di Ubuntu. Kebanyakan pengguna Linux hanya memiliki hak akses terbatas dan hanya menggunakan hak akses "root" jika diperlukan saja. Hal ini berbeda dengan Windows yang memberikan hampir semua hak akses untuk penggunanya, meskipun hal ini sudah diminimalisir dengan adanya UAC di Windows. Sumber


Explorer pada Windows 8.1

Explorer pada LinuxMint 17

Selain itu, pada Linux tidak memperlukan yang namanya Driver. Semua hardware akan aktif dan dapat digunakan secara langsung. Kalau Windows harus memasang Driver agar Hardware dapat bekerja. Namun walaupun begitu, kinerja hardware bisa bekerja lebih maksiman pada Windows. 

Dari segi Software, Windows menang jauh. Hampir semua software bisa dijalankan dengan Windows. Karena memang mayoritas pengguna Komputer menggunakan Windows. Pada linux, masiih sedikit sekali software yang tersedia. Walaupun Linux bisa menjalankan program-program Windows, namun masih banyak bug dan masih sedikit yang bisa dijalankan.

Hal tersebut tentu juga berlaku dengan Game. Masih sedikit game yang bisa dijalankan pada Linux. Gamer tidak akan menginstall Linux untuk kebutuhan Gamingnya. Setereotip nya kalau Bermain Game di PC itu ya memakai Windows. Kalau Desain memakai MacOS. Kalau Mau Hacking pakai Linux.
Start Menu pada Windows 8.1

Start Menu pada LinuxMint 17


Namun sekarang telang dikembangkan SteamOS, Yaitu OS berbasis Linux yang berfungsi untuk gaming. Dari hasil tes, Performa di SteamOS masih kalah dengan Windows kalau dipaki untuk bermain Game.

Mungkin itu saja sedikit ulasan saya mengenai LinuxMint 17 dan Windows 8.1. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. ^^

Wednesday, October 29, 2014

Six Sigma danTotal Quality Management

Total Quality Management
Total Quality Management (TQM) is an approach that seeks to improve quality and performance which will meet or exceed customer expectations. This can be achieved by integrating all quality-related functions and processes throughout the company. TQM looks at the overall quality measures used by a company including managing quality design and development, quality control and maintenance, quality improvement, and quality assurance. TQM takes into account all quality measures taken at all levels and involving all company employees.

Origins Of TQM

Total quality management has evolved from the quality assurance methods that were first developed around the time of the First World War. The war effort led to large scale manufacturing efforts that often produced poor quality. To help correct this, quality inspectors were introduced on the production line to ensure that the level of failures due to quality was minimized.
After the First World War, quality inspection became more commonplace in manufacturing environments and this led to the introduction of Statistical Quality Control (SQC), a theory developed by Dr. W. Edwards Deming. This quality method provided a statistical method of quality based on sampling. Where it was not possible to inspect every item, a sample was tested for quality. The theory of SQC was based on the notion that a variation in the production process leads to variation in the end product. If the variation in the process could be removed this would lead to a higher level of quality in the end product.
After World War Two, the industrial manufacturers in Japan produced poor quality items. In a response to this, the Japanese Union of Scientists and Engineers invited Dr. Deming to train engineers in quality processes. By the 1950’s quality control was an integral part of Japanese manufacturing and was adopted by all levels of workers within an organization.
By the 1970’s the notion of total quality was being discussed. This was seen as company-wide quality control that involves all employees from top management to the workers, in quality control. In the next decade more non-Japanese companies were introducing quality management procedures that based on the results seen in Japan. The new wave of quality control became known as Total Quality Management, which was used to describe the many quality-focused strategies and techniques that became the center of focus for the quality movement.

Principles of TQM

TQM can be defined as the management of initiatives and procedures that are aimed at achieving the delivery of quality products and services. A number of key principles can be identified in defining TQM, including:
  • Executive Management – Top management should act as the main driver for TQM and create an environment that ensures its success.
  • Training – Employees should receive regular training on the methods and concepts of quality.
  • Customer Focus – Improvements in quality should improve customer satisfaction.
  • Decision Making – Quality decisions should be made based on measurements.
  • Methodology and Tools – Use of appropriate methodology and tools ensures that non-conformance incidents are identified, measured and responded to consistently.
  • Continuous Improvement – Companies should continuously work towards improving manufacturing and quality procedures.
  • Company Culture – The culture of the company should aim at developing employees ability to work together to improve quality.
  • Employee Involvement – Employees should be encouraged to be pro-active in identifying and addressing quality related problems.

The Cost Of TQM

Many companies believe that the costs of the introduction of TQM are far greater than the benefits it will produce. However research across a number of industries has costs involved in doing nothing, i.e. the direct and indirect costs of quality problems, are far greater than the costs of implementing TQM.
The American quality expert, Phil Crosby, wrote that many companies chose to pay for the poor quality in what he referred to as the “Price of Nonconformance”. The costs are identified in the Prevention, Appraisal, Failure (PAF) Model.
Prevention costs are associated with the design, implementation and maintenance of the TQM system. They are planned and incurred before actual operation, and can include:
  • Product Requirements – The setting specifications for incoming materials, processes, finished products/services.
  • Quality Planning – Creation of plans for quality, reliability, operational, production and inspections.
  • Quality Assurance – The creation and maintenance of the quality system.
  • Training – The development, preparation and maintenance of processes.
Appraisal costs are associated with the vendors and customers evaluation of purchased materials and services to ensure they are within specification. They can include:
  • Verification – Inspection of incoming material against agreed upon specifications.
  • Quality Audits – Check that the quality system is functioning correctly.
  • Vendor Evaluation – Assessment and approval of vendors.
Failure costs can be split into those resulting from internal and external failure. Internal failure costs occur when results fail to reach quality standards and are detected before they are shipped to the customer. These can include:
  • Waste – Unnecessary work or holding stocks as a result of errors, poor organization or communication.
  • Scrap – Defective product or material that cannot be repaired, used or sold.
  • Rework – Correction of defective material or errors.
  • Failure Analysis – This is required to establish the causes of internal product failure.
External failure costs occur when the products or services fail to reach quality standards, but are not detected until after the customer receives the item. These can include:
  • Repairs – Servicing of returned products or at the customer site.
  • Warranty Claims – Items are replaced or services re-performed under warranty.
  • Complaints – All work and costs associated with dealing with customer’s complaints.
  • Returns – Transportation, investigation and handling of returned items.
 SIX SIGMA
What does it mean to be “Six Sigma”? Six Sigma at many organizations simply means a measure of quality that strives for near perfection. But the statistical implications of a Six Sigma program go well beyond the qualitative eradication of customer-perceptible defects. It’s a methodology that is well rooted in mathematics and statistics.
The objective of Six Sigma quality is to reduce process output variation so that on a long term basis, which is the customer’s aggregate experience with our process over time, this will result in no more than 3.4 defect parts per million (PPM) opportunities (or 3.4 defects per million opportunities – DPMO). For a process with only one specification limit (upper or lower), this results in six process standard deviations between the mean of the process and the customer’s specification limit (hence, Six Sigma). For a process with two specification limits (upper and lower), this translates to slightly more than six process standard deviations between the mean and each specification limit such that the total defect rate corresponds to equivalent of six process standard deviations.
Many processes are prone to being influenced by special and/or assignable causes that impact the overall performance of the process relative to the customer’s specification. That is, the overall performance of our process as the customer views it might be 3.4 DPMO (corresponding to long term performance of 4.5 sigma). However, our process could indeed be capable of producing a near perfect output (Short Term capability – also known as process entitlement – of Six Sigma). The difference between the “best” a process can be, measured by short term process capability, and the customer’s aggregate experience (long term capability) is known as Shift depicted as Zshift or sshift. For a “typical” process, the value of shift is 1.5; therefore, when one hears about Six Sigma, inherent in that statement is that the short term capability of the process is 6, the long term capability is 4.5 (3.4 DPMO – what the customer sees) with an assumed shift of 1.5. Typically, when reference is given using DPMO, it denotes the long term capability of the process, which is the customer’s experience. The role of the Six Sigma professional is to quantify the process performance (short term and long term capability) and based on the true process entitlement and process shift, establish the right strategy to reach the established performance objective
As the process sigma value increases from zero to six, the variation of the process around the mean value decreases. With a high enough value of process sigma, the process approaches zero variation and is known as ‘zero defects.’

Statistical Take Away

Decrease your process variation (remember variance is the square of your process standard deviation) in order to increase your process sigma. The end result is greater customer satisfaction and lower costs.

Tuesday, October 21, 2014

Tindakan Potensial Pidana di Sekolah



Sebenarnya saya bingung mau posting apa. Karena sebenarnya tidak terpikirkan kalau saya akan membuat blog :D. Saya membuat Blog ini untuk memenuhi tugas kuliah saya haha. Namun sepertinya saya juga tertarik untuk terus aktif ngeBlog, sepertinya menyenangkan. Pada post pertama ini, saya sebagai seorang mahasiswa menulis, atau mengcopas haha tentang hukum-hukum yang mungkin sekali terjadi di lingkungan sekolah. Oke gan, ga perlu panjang lebar lagi. Ini dia tindak - tindak pidana yang sering (nggak juga sih kalo di STIS, bahkan ngga pernah) terjadi di sekolah.


1. Guru menampar Siswa

Agan2 yg masih pada sekolah atau Agan waktu masih sekolah dulu pernah ngalamin dimarahi guru gara-gara gak nyukur rambut alias punya rambut gondrong? Gmn jika kemarahan guru dilakukan dalam bentuk menampar siswanya? Bagaiama hukumnya?


Guru yang menampar siswa di depan kelas dan di hadapan teman-temannya sesama siswa adalah suatu tindakan yang salah dan memenuhi unsur delik (tindak pidana).

Guru yang menapar siswanya dapat dilaporkan ke Polsek terdekat, di wilayah domisili sekolah dengan sangkaan Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU Perlindungan Anak”) yang ancaman pidananya adalah pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp
72.000.000.

Di samping itu Gan, orang tua juga bisa melibatkan pihak ketiga seperti Pengurus POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) untuk menyelesaikan permasalahan ini, yang mendorong dijatuhkannya sanksi kepada guru tersebut dan demi mencegah kejadian yang sama terjadi pada siswa lainnya di masa yang akan datang.

Penjelasan selengkapnya bisa Agan baca di artikel:
Jika Guru Menampar Siswa Gara-gara Tidak Mencukur Rambut


2. Menghukum Adik Kelas
Dalam Masa Orientasi Siswa (“MOS”) seringkali kakak kelas memberikan hukuman secara fisik kepada adik kelas. Seperti misalnya adik kelas yang melakukan kesalahan disuruh melakukan push up.

Apakah pemberian hukuman secara fisik diperbolehkan dalam MOS?

Pada dasarnya dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 220/C/MN/2008 tentang Kegiatan MOS (“SE Dirjen Kemendiknas 2008”) diatur bahwa kepala dinas pendidikan diminta agar memperhatikan supaya kegiatan MOS diisi dengan kegiatan yang bersifat edukatif dan bukan mengarah pada tindakan yang destruktif atau kegiatan lain yang merugikan siswa baru baik secara fisik maupun psikologis.

Dari sini dapat agan lihat bahwa kegiatan MOS yang dilakukan dalam lingkungan sekolah harus bersifat edukatif, termasuk menurut kami penerapan “hukuman” bagi siswa, seperti tidak adanya tindak kekerasan fisik yang dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya.

Penjelasan lebih lanjut dapat agan baca di artikel
Bolehkah Kakak Kelas Menghukum Adik Kelas?



3. Mengejek Guru di Medsos

Ayo siapa agan2 di sini yg pernah ngejek-ngejek atau ngolok2 gurunya? Tunjuk tangan ayo..

Saran kami nih gan, mulai skrg coba kita ilangin deh kebiasaan ngejek atau ngolok2 guru. Apalagi sampe ngejek2 lewat media sosial. Ada beberapa alasan:
1. Guru adalah org yg berjasa dalam mengajar dan membagi pengetahuan kpd kita
2. Guru adalah orang tua yg harus dihormati
3. Secara hukum, perbuatan mengejek atau mengolok2 guru bs dikategorikan pencemaran nama baik.
4. Pencemaran nama baik bakal sangat mungkin tersebar luas klo dilakuin lewat media sosial. Efeknya jg bakal jadi tambah luar biasa.
5. Ancaman hukuman bagi murid yg melakukan pencemaran nama baik di media sosial adalah penjara paling lama 3 tahun dan/atau denda maksimal Rp500 juta

Dasar hukum dari poin 3 sampe 5 di atas adalah Pasal 45 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (3) UU ITE dan Pasal 79 UU Sistem Peradilan Pidana Anak.


Lebih lanjut, baca artikel ini ya gan

Klik gan



4. Korupsi dana BOS

Jika ada penyelewenangan dana BOS yang dilakukan oleh pihak dari sekolah swasta, maka pihak yang bersangkutan juga dikenakan sanksi. Dengan kata lain, aturan petunjuk teknis penggunaan dana BOS ini tidak hanya berlaku bagi sekolah negeri saja, tetapi juga berlaku bagi sekolah swasta.

Adakah sanksi bagi sekolah/pejabat yang bersangkutan, dalam hal ini adalah kepala sekolah serta komite sekolah, yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan apa yang telah diperuntukkan bagi dana BOS tersebut?

Masih mengacu pada Lampiran I Permendikbud 76/2014, dalam Bab VIII tentang Pengawasan, Pemeriksaan, dan Sanksi, sanksi terhadap penyalahgunaan wewenang yang dapat merugikan negara dan/atau sekolah dan/atau peserta didik akan dijatuhkan oleh aparat/pejabat yang berwenang. Sanksi kepada oknum yang melakukan pelanggaran dapat diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya seperti berikut:

1. Penerapan sanksi kepegawaian sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku (pemberhentian, penurunan pangkat, mutasi kerja).

2. Penerapan tuntutan perbendaharaan dan ganti rugi, yaitu dana BOS yang terbukti disalahgunakan agar dikembalikan kepada satuan pendidikan atau ke kas daerah provinsi.

3. Penerapan proses hukum, yaitu mulai proses penyelidikan, penyidikan dan proses peradilan bagi pihak yang diduga atau terbukti melakukan penyimpangan dana BOS.

4. Pemblokiran dana dan penghentian sementara seluruh bantuan pendidikan yang bersumber dari APBN pada tahun berikutnya kepada provinsi/kabupaten/kota, bilamana terbukti pelanggaran tersebut dilakukan secara sengaja dan tersistem untuk memperoleh keuntungan pribadi, kelompok, atau golongan

Selengkapnya, cekidot ya gan:
Sanksi Bagi Penyalahguna Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)


Okelah gan.

Itu saja yang dapat saya post. Terimakasih atas kunjungannya ^^



Sumur